BAB I SKRIPSI LIVING QURAN PEMBACAAN SHOLAWAT BASYAIRUL KHOIROT DAN MUQODDAMAN DI PP AL MADINAH CEPOKO SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber ajaran Islam. Kedua sumber tersebut
didapatkan sejak Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasulullah (utusan Allah).
Sebagai tandanya adalah bahwa Nabi Muhammad SAW. mendapatkan wahyu firman Allah
SWT. berupa Al-Qur’an dan penjelasannya melalui Hadis. Kedua sumber tersebut
memberikan panduan petunjuk untuk kehidupan kebahagiaan di dunia dan di
akhirat.
Al-Qur’an manjadi pedoman dalam kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat
petunjuk Allah jalan yang benar dan mana yang salah. Selain itu juga terdapat
beragam tuntunan dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim.
Dengan adanya kewajiban dan tuntutan menjadikan Al-Qur’an itu sendiri hidup.
Sejak Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, saat itu jugalah
Al-Qur’an mulai hidup. Dan beliau sendirilah yang mulai menghidupkannya. Karena
adanya sunnah yang termaktub dalam Hadis tidak lain adalah bukti dari hidupnya
Al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan oleh para sahabat. Cara sahabat menghidupkan
Al-Qur’an (Living the Qur’an) adalah dengan menjalankan tradisi-tradisi
kenabian, meneladani, dan mengikuti jejak Nabi.[1]
Fenomena menghidupkan Al-Qur’an di masa sekarang sudah menjalar hingga ke
seluruh umat muslim. Masyarakat memiliki ragam budaya dan tradisi masing-masing
dalam menghidupkanya. Diataranya adalah dengan cara berinteraksi dengan
Al-Qur’an. Interaksi ini bisa berupa melalui teks maupun aksi. Interaksi berupa
teks misalnya adalah dengan membaca, menghafalkan, menulis, atapun
menafsirkannya. Sedangkan interaksi berupa aksi misalnya adalah praktik dengan
meneladani sunnah-sunnah Nabi.[2]
Perihal berinteraksi dengan Al-Qur’an sangat identik dengan kegiatan
membaca. Kadangkala umat muslim melakukannya dengan sendiri dan kadangkala
dilakukan secara bersamaan. Ada juga yang mengkhususkan kegiatan membaca paa
waktu tertentu serta pada tempat tertentu. Kegiatan ini sangat beragam
variannya. Salah satu contohnya adalah
membaca surat Yasin pada malam jum’at hingga kebiasaan ini
melahirkan tradisi yang disebut Yasinan.[3]
Namun ada juga tradisi membaca Al-Qur’an tanpa memilih satu, dua ataupun
mengkhususkan beberapa surat untuk dijadikan sebuah amal ibadah, akan tetapi
membaca 30 juz Al-Qur’an sekaligus serta dilakukan secara bersamaan. Masyarakat
nusantara biasa menyebutnya dengan Muqoddaman Al-Qur’an. Prosesi pembacaan Al-Qur’a ini
dilakukan secara bersama-sama dalam satu waktu. Masing-masing orang yang hadir
di beri 1 juz dan dibaca bersama-sama hingga selesai. Tradisi tersebutlah yang
juga terjadi di Majlis Ta’lim Al-Madinah Cepoko Semarang.
Muqoddaman Al-Qur’an merupakan salah satu tradisi yang telah
berjalan cukup lama di Majlis Ta’lim al-Madinah Cepoko Semarang yang
dilaksanakan setiap malam senin kliwon. Tradisi ini dilaksanakan di aula
kediaman Habib Umar bin
Ahmad Al-Muthohar Cepoko Semarang. Jumlah yang hadir kurang lebih bisa mencapai 1.000
Hadirin. [4]
Menghidupkan Al-Qur’an tidak hanya sampai disitu saja, melainkan ada aksi
yang lebih penting yaitu mengamalkan semua perintah, anjuran, dan larangan yang
ada dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah Allah SWT. menganjurkan kepada
manusia bahkan para malaikat untuk senantiasa bersholawat kepada Nabi Muhammad
SAW., baik dalam bentuk doa maupun dalam bentuk lainnya. Landasan yang
menganjurkan bersholawat adalah;
¨bÎ) ©!$# ¼çmtGx6Í´¯»n=tBur tbq=|Áã n?tã ÄcÓÉ<¨Z9$# 4
$pkr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#q=|¹ Ïmøn=tã (#qßJÏk=yur $¸JÎ=ó¡n@ ÇÎÎÏÈ
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk
Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.[5]
Ayat diatas menjelaskan bahwa membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
sangat dianjurkan. Karena mengingat ibadah sholawat memiliki arti penting bagi
masyarakat, yaitu sarana efektif menjalin komunikasi dengan Sang Pencipta,
Allah SWT. Selain itu masyarakat juga meyakini dengan bersholawat akan
mendatangkan sayafa’at diakhirat kelak.[6]
Perihal bacaan-bacaan sholawat yang diamalkan di masyarakat dipahami dengan
bacaan ritual serta dengan cara yang berbeda-beda. Hal tersebut terjadi karna
adanya perbedaan maksud atau tujuan dari kegiatan pembacaan. Salah satunya
adalah bacaan Sholawat Basyairul Khoirot[7].
Keutamaan sholawat ini adalah mampu menghubungkan ruh pembacanya dengan
Rasulullah SAW. dan karenanya akan terlimpah rahmat Allah serta syafa’at
Rasul-Nya sehingga terurai semua kesulitan hidup baik urusan duniawiyah maupun
uhrowiyah.[8]
Sholawat ini juga sudah menjadi runtutan rangkaian dzikir yang ada di Majlis
Ta’lim Al-Madinah Cepoko Semarang.
Berangkat dari uraian-urain di atas, penulis tertarik untuk melakukan
sebuah penelitian terkait salah satu fenomena living Qur’an pada sebuah
lembaga PP. PA. Majlis Ta’lim Al-Madinah di kota Semarang, tepatnya di
kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang. Fokus penulis dalam
penelitian living Qur’an di Majlis Ta’lim Al-Madinah Semarang ini terletak pada
pembacaan Al-Qur’an secara muqoddaman dan penanaman bersholawat, yaitu
melalui rangkain dzikir yang disebut Istighosah. Dalam hal ini program tersebut
merupakan program yang sudah berjalan cukup lama di Majlis Ta’lim Al-Madinah
Semarang.
Istighosah adalah salah satu program yang sudah berjalan di Majlis Ta’lim Al-Madinah
Semarang. Kegiatan ini rutin dilakukan sekali dalam sebulan setiap pada hari
senin kliwon. Tujuan dari program ini adalah untuk pengamalan sekaligus
membiasakan santri-santri agar selalu bersholawat dan terlatih dalam
berinteraksi dengan Al-Qur’an.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diambil pokok-pokok rumusan
masalah sebagaiberikut:
1. Apa dalil yang mendasari tradisi Muqoddaman Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat
Basyairul Khoirot di Majlis Taklim Al-Madinah Semarang?
2. Bagaimana
penerapan praktik tradisi Muqoddaman Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat Basyairul Khoirot
di Majlis Taklim Al-Madinah Semarang?
3. Apa
makna pembacaan Muqoddaman
Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat Basyairul Khoirot di Majlis Taklim
Al-Madinah Semarang?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui dalil yang mendasari tradisi Muqoddaman Al-Qur’an dan
pembacaan Sholawat Basyairul Khoirot di Majlis Taklim Al-Madinah
Semarang.
2. Mengetahui
dan menjelaskan bagaimana penerapan tradisi Muqoddaman Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat Basyairul
Khoirot di Majlis Taklim Al-Madinah Semarang.
3. Mengetahui
apa makna tradisi Muqoddaman Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat Basyairul Khoirot di Majlis Taklim
Al-Madinah Semarang bagi para pelaku tradisi yang mengikutinya.
Adapun kegunaan dari adanya hasil penelitian ini adalah:
1. Menambah wawasan pengetahuan baik bagi penulis maupun pembaca di bidang
ilmu-ilmu keislaman secara umum, dan ilmu tafsir dan pemikiran Islam secara
khusus.
2. Dalam ranah akademik, penelitian ini diharapkan dapat berkonstribusi
menyumbang khazanah keilmuan di bidang studi Qur’an khususnya yang berkenaan
dengan living Qur’an.
D. Tinjauan Pustaka
Ada beberapa literatur yang menyajikan informasi dan pembahasan seputar
kajian terhadap Muqoddaman Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat Basyairul
Khoirot, atau tema yang terkait dengan keduanya meskipun terdapat perbedaan
sedikit atau banyak dalam aspek tertentu. Di antara literatur-literatur
tersebut adalah:
Skripsi yang ditulis oleh Rochmah Nur Azizah berjudul “Tradisi Pembacaan
Surat al-Fatihah dan al-Baqarah; Kajian Living Quran di PPTQ Aisyiyah,
Ponorogo”. Dalam penelitiannya, penulis hanya terfokus pada surat-surat
pilihan dan menyimpulkan ada tiga aspek pengaruh dari pembacaan surat
al-Fatihah dan al-Baqarah, yaitu: pendekatan diri kepada Allah sebagai bentuk
rasa syukur dan keimanan terhadap al-Qur‟an, sebagai pembentuk kepribadian, dan
sebagai pengharap-barokah kepada Allah Swt.[9]
Kemudian skripsi “Resepsi
Surat-Surat Pilihan dalam Al-Qur’ān di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kaliwungu
Kendal” yang ditulis oleh Ainun Jaziroh UIN Walisongo Semarang. Dalam
penelitian ini penulis meneliti hanya
pada pembacaan surat-surat pilihan di dalam Al-Qur’an,
antara lain: surat Yāsīn, surat Al-Waqi’ah,
surat Al-Mulk
dan surat Al-A’la
yang dibaca secara berurutan. Surat-surat ini dibaca setelah sholat fardlu maghrib dan
subuh secara berjama’ah disambung dengan kalimat dzikir lainnya yang tercantum
pada buku panduan. Dalam penelitiannya amalan ini bertujuan supaya ilmu-ilmu
yang telah dipelajari atau dihafalkan dapat menjaganya serta mendapat
keberkahan dari Allah SWT.[10]
Skripsi M. Najmuddin Rif’an Jurusan Tafsir Hadis di IAIN Surakarta dengan
judul “Resepsi Kegiatan Tahfidz Pagi”. Penelitian ini hanya berfokus
pada resepsi atau pemaknaan seseorang atau informan ketika berinteraksi dengan
Al-Qur’an.[11]
Skripsi yang
ditulis Fathurrohman yang berjudul “Sholawat Wahidiyah Di Desa Margasari
Kecamatan Sidareja Kabupaten Cilacap” UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Penelitian ini juga membahas tentang keutamaan sholawat. Namun fokus kajiannya
adalah tentang makna sholawat wahidiyah dalam upaya mendekatkan diri kepada
Allah SWT.[12]
Selanjutnya sebuah
karya tulis Ahmad Rafiq dalam jurnal
yang berjudul Pembacaan yang Atomistik Terhadap Al-Qur’ān: Antara
Penyimpangan dan Fungsi. Di dalamnya dipaparkan mengenai pembacaan yang atomistic
terhadap Al-Qur’ān adalah pembacaan yang menganggap setiap bagian dari
Al-Qur’ān, baik berupa surat, kelompok ayat, sebuah ayat, potongan ayat dan
kata tertentu mempunyai makna tersendiri. Secara umum seseorang membaca
Al-Qur’ān bertujuan agar mendapatkan pahala karena memang membaca Al-Qur’ān
berpotensi pahala, tentu ini merupakan sesuatu pemahaman yang telah memfamiliar
di hati masyarakat muslim. Kemudian ada juga seseorangmembaca Al-Qur’ān dengan
tujuan untuk mencari petunjuk.[13]
E. Metodologi Penelitian
Metode penelitian adalah pendekatan, cara dan teknis yang akan dipakai dalam proses
pelaksanaan penelitian. Hal ini tergantung pada disisplin ilmu yang dipakai
serta masalah pokok yang di rumuskan.[14]
Metode
yang digunakan dalam penulisan penelitian living Qur’an adalah sebagai berikut:
1. Jenis Penilitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian
deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif adalah sebuah kerangka pemecahan
masalah berdasarkan gambaran keadaan objek dengan menggunakan fakta-fakta yang
ada atau gejala-gejala yang terjadi serta mengemukakan hubungan yang terkait
dengan objek yang diteliti.[15] Sedangkan
penelitian kualitatif adalah penelitian khusus objek yang tidakdapat di
diteliti secara statistik atau kuantifikasi. Penelitian ini biasanya bertujuan
untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti
perilaku, resepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain.[16] Penelitian
ini termasuk penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian
dengan cara terjun kelapangan atau lokasi penelitiannya. Penelitian ini cocok
digunakan dalam penelitian living Qur’an, karena living Qur’an adalah
sebuah penelitian mengenai fenomena budaya atau kejadian-kejadian yang terjadi
di lingkungan muslim sekitar, lebih tepatnya pada ayat atau hadis yang telah
bermetamorfosis menjadi karya budaya di masyarakat.[17]
2. Sumber Data
Adapun sumber data dalam penelitian ini
adalah:
a. Data primer, adalah sumber data yang langsung memberikan data pada
pengumpul data. yaitu melalui hasil wawancara dengan Pengasuh Habib Umar
Mutohhar, para pengurus Majlis yang dirujuk sebagai Ustadz, serta
santri-santri.
b. Data sekunder, merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Diantaranya
adalah berupa buku-buku maupun artikel yang berhubungan dengan penelitian ini.[18]
Yang menjadi sumber data sekunder diantaranya adalah hasil data dokumentasi dan
arsip-arsip di Majlis Ta’lim Al-Madinah baik yang berbentuk tulisan maupun
berupa gambar. Begitu juga buku ataupun kajian-kajian yang berkaitan dengan
penelitian ini.
3. Metode Pengumpulan Data
Ada beberapa teknik pengumpulan data yang
penulis gunakan dalam menyelesaikan skripsi ini. Teknik tersebut tersebut
adalah observasi, wawancara, dan doumentasi.
a. Observasi
Observasi adalah langkah penilitian berupa pengamatan
terhadap objek yang akan diteliti. Secara umum, observasi dibagi menjadi dua
yakni observasi bebas dan observasi partisipatif. Pada jenis observasi bebas,
peneliti hanya berfungsi sebagai pengamat. Observasi ini lebih ditekankan pada
penggalian informasi pada dokumen, arsip, maupun buku-buku yang masih terkait
dengan pembahasan kegiatan-kegiatan pada tradisi muqoddaman Al-Qur’an
dan pembacaan sholawat basyairul khoirot. Sedangkan pada observasi
partisipatif peneliti juga ikut serta menjadi bagian partisipan di Majlis
Taklim Al-Madinah Semarang.[19]
Sehingga dengan terlibat secara langsung dalam tradis ini penulis dapat mengali
informasi lebih dalam.
b. Wawancara
Wawancara merupakan cara yang dilakukan oleh
seseorang untuk mendapatkan keterangan secara lisan dari seorang responden
dengan berbicara secara langsung dengan orang tersebut baik antara individu
dengan individu maupun individu dengan kelompok.[20] Dalam
penelitian ini penulis akan menerapkan wawancara dalam bentuk non-formal
seperti berbincang-bincang biasa untuk menggali informasi dari narasumber baik dari
pengasuh, asatidz, pengurus ataupun santri Majlis Taklim Al-Madinah Semarang.
c. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah
berlalu. Dokumen bisa berupa tulisan, gambar-gambar atau karya-karya monumental
dari kegiatan atau peristiwa yang berkaitan dengan tradisi Muqoddaman Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat Basyairul
Khoirot di Majlis Ta’lim Al-Madinah.[21]
4. Metode Analisis Data
Segala bentuk informasi data yang didapat baik
dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi merupakan hasil penelitian.
Data-data tersebut kemudian dianalisis sehingga diperoleh gambaran dari hasil
yang lebih komprehensif. Adapun tahap-tahap pengolahan data dalam penelitian
ini adalah:
a. Reduksi Data
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya
sangat banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara rinci. Langkah selanjutnya
adalah peneliti melakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data
berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang
penting, dicari pola dan tema.
b. Penyajian Data
Setelah di reduksi, maka langkah selanjutnya
adalah penyajian data, yaitu penyajian dalam bentuk uraian singkat, bagan, dan
yang paling sering digunakan adalah menyajikan data yang terkumpul di Majlis
Ta’lim Al-Madinah dengan bentuk teks yang bersifat naratif.
c. Verifikasi Data atau Penarikan Kesimpulan
Pada tahap akhir ini, penulis melakukan
analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul dari hasil penelitian
sehingga data tersebut dapat memiliki makna. dalam tahap ini juga dilakukan
verifikasi kesimpulan agar ada kesesuaian antara fakta yang terjadi di Majlis
ta’lim Al-Madinah dengan data-data yang terkumpul dengan hasil penelitian itu
sendiri.[22]
F. Sistemaatika Penulisan
Dalama memahami konsep pembahasan secara umum, maka sistematika penulisan
sangat diperlukan. Sistematika penulisan ini berisi tentang ringkasan dari bab
per bab secara keseluruhan. Gambaran umum tentang tahapan penelitian dengan
sistematika sebagai berikut:
Bab pertama berisi pendahuluan menjelaskan latar belakang mengapa
peneliti memilih judul ini. Sebab di Majlis Ta’lim Al-Madinah terdapat tradisi
yang unik yakni tradisi Muqoddaman Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat
Basyairul Khoirot. Kemudian dalam penelitian ini ada tiga rumusan masalah,
tujuan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua berisi landasan teori yang dijadikan orientasi dalam
penelitian ini. Sehingga dalam bab dua ini berisi penjelasan mengenai Tradisi
Islam, living Qur’an, teori-teori resepsi terutama resepsi fungsional yang
digunakan untuk memahami makna dari Muqoddaman Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat
Basyairul Khoirot hingga motivasi membaca dan berdo’a dengan al-Qur’an.
Bab ketiga berisi data lapangan, terutama gambaran umum, dan struktur
organisasi Majlis Ta’lim Al-Madinah. Kemudian pada sub kedua berisi tentang sejarah
berdirinya tradisi, prosesi, tempat dan pola Muqoddaman Al-Qur’an dan
pembacaan Sholawat Basyairul Khoirot di Majlis Ta’lim Al-Madinah.
Bab keempat berisi tentang Analisis mengenai praktik pembacaan dan
pengungkapan makna berdasarkan teori fungsional horizon harapan dari praktik Muqoddaman
Al-Qur’an dan pembacaan Sholawat Basyairul Khoirot.
Bab kelima yaitu penutup yang berisi kesimpulan untuk memberikan
jawaban dari rumusan masalah dan saran-saran dari penulis terkait dengan
permasalahan.
[1] Ahmad Ubaidy Hasbillah, Ilmu Living Qur’an-Hadis,
(Banten; Unit Penerbitan Maktabah Darus-sunnah, 2019), h. 4.
[2] Ahmad Ubaidy Hasbillah, op. Cit.,
h. 64.
[3] Sahiron
Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadīs (Yogyakarta:
TH Press, 2007), h. 15.
[4] Observasi di
Majlis Ta’lim Al-Madinah Cepoko Gunungpati Semarang, 15 Januari 2020.
[5] Al-Qur’an, 33
(Al-Ahzab): 56.
[6] Wildana Wargadinata, “Spiritualitas Sholawat”,
(Malang: UIN-Maliki Press, 2010), h. 250.
[7] Sholawat
Basyairul Khoirot merupakan rangkaian bacaan sholawat Nabi yang dikenal dan
ditulis oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
[8] Keutamaan ini
disampaikan oleh Habib Umar bin Ahmad Al-Muthohar dalam muqoddimah kitab Basyairul
Khoirot.
[9] Nur Aziziah,
“Tradisi Pembacaan Surat al-Fatihah dan al-Baqarah; Kajian Living Quran di
PPTQ Aisyiyah, Ponorogo” Skripsi Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, (Ponorogo;
2013).
[10] Ainun Jaziroh,
“Resepsi Surat-Surat Pilihan dalam al-Qur’ān di Pondok Pesantren Miftahul Huda
Kaliwungu Kendal”, Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. Semarang.
2019.
[11] M. Najmuddin,
“Resepsi Kegiatan Tahfidz (Kajian Living Qur’an di SDIT Nur Hidayah
Surakarta)”, Skripsi Fakultas Ushuluddin Dan Dakwah, (Surakarta; 2018).
[12] Fathurrohman, “Sholawat Wahidiyah Di Desa Margasari Kecamatan
Sidareja Kabupaten Cilacap” Skripsi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.
[13] Ahmad Rafiq,
“Pembacaan yang Atomistic Terhadap Al-Qur’ān: Antara Penyimpangan dan Fungsi”,
Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’ān dan
Hadiṡ, Volume 5, 1 Januari 2004, h. 3
[14] Tim Penyusun
Skripsi, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo
Semarang, (Semarang: Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, 2013), h.
24
[15]Sudaryono, Metodologi
Penelitian, (Depok; PT Raja Grafindo
Pesada, 2017), h. 82
[16] M. Djunaidi
Ghony dan Fauzan Almanshur, Metode Penelitian Kualitatif, (Jogjakarta;
Ar-Ruzz Media, 2016), h. 13
[17] Ahmad Ubaidy
Hasbillah, Ilmu Living Qur’an-Hadis, (Banten; Unit Penerbitan Maktabah
Darus-sunnah, 2019), h. 199
[18] Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung, Alfabeta CV.
2016) h. 225
[19] Sugiyono, op.
cit., h. 228
[20] Sugiyono, op.
cit., h. 231
[21] Sugiyono, op.
cit., h. 240
[22] Sugiyono, op.
cit., h. 253
Komentar
Posting Komentar